BALET bukan hanya menonjolkan seni semata. Lebih dari itu, tarian ini mempunyai pengaruh positif pada aspek perkembangan anak, baik mental maupun fisik. Di antaranya membentuk tubuh sekaligus kepribadian.
Bila sebelumnya Anda tidak melirik balet sebagai alternatif kursus bagi si kecil di masa perkembangannya, ada baiknya mulai sekarang Anda berpikir ulang. Sebab, tarian yang berasal dari Eropa ini tidak hanya mengedepankan aspek seni. Di balik itu, balet memiliki tidak sedikit pengaruh positif bagi perkembangan si buah hati.
Seperti dituturkan oleh Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi. Menurutnya, tari balet berperan cukup besar pada kecerdasan emosi anak. “Dengan rutin latihan, anak diajak untuk menguasai dan mengendalikan dirinya secara baik,” kata Seto.
Termasuk pentingnya menjunjung disiplin. Ketika anak mengikuti kelas balet, tentu mereka harus datang tepat waktu dan mengikuti aturan yang berlaku di dalam kelas, upamanya saja tidak boleh mengobrol selama kursus sedang berlangsung. Tarian yang berkembang di Prancis pada masa pemerintahan Raja Louise XIV ini juga mengajarkan anak dalam bersosialisasi, berkelompok, serta belajar bekerja sama.
Tidak jauh berbeda dengan pandangan maestro balet Indonesia, Farida Oetoyo. Menurut pimpinan Sanggar Sumber Cipta itu, pada dasarnya menari memiliki manfaat yang baik bagi tubuh serta jiwa. Sebut saja untuk mengembangkan koordinasi tubuh dan pikiran, melatih kecepatan berpikir, juga tidak ketinggalan membangun rasa percaya diri.
Masih manfaat balet bagi kesehatan tubuh, tarian ini juga diyakini bermanfaat dalam memperkuat daya tahan tubuh. Utamanya bagi anak-anak yang lemah secara fisik. Nah, melalui tarian balet ini, anak akan belajar mengembangkan sense tentang gerakan tari, ritme, serta apresiasi mereka terhadap musik.
Farida mengatakan, balet bukan sekadar gerakan yang menonjolkan sisi estetis semata.
Di dalam gerakannya sendiri terkandung nilai-nilai atau filosofi dari tarian ini.
Adapun menurut Internal Communication Namarina Agatha Pritania, gerakan-gerakan yang ada pada tarian balet mempunyai andil cukup besar dalam pembentukan tubuh anak, sehingga tubuh menjadi lebih lentur. “Balet juga menjadikan tubuh penarinya lebih proporsional,” ujar dia.
Idealnya, memulai kebiasaan menari diawali sejak usia yang masih sangat belia. Karena pada saat itu tubuh manusia masih cukup lentur, sehingga mudah untuk digerakkan dan dibentuk. Farida berujar, untuk mendapatkan bibit penari balet profesional memang harus dilatih sejak kecil. “Ketika anak masih berusia lima hingga tujuh tahun, ini masa-masa yang tepat untuk mulai mengasah kemampuan mereka,” ujar wanita yang sudah terjun ke dunia balet sejak 40 tahun silam itu.
Dengan manfaat yang ditawarkan oleh kursus ini, tidak heran jika kini sanggar tari balet semakin menjamur jumlahnya di perkotaan. Sanggar tersebut menawarkan kelas untuk berbagai usia, mulai usia dini sampai kelas untuk orang dewasa. Seperti di sanggar balet Namarina. Sanggar ini menyediakan kelas untuk anak-anak yang berusia tiga sampai enam tahun. Pada tingkatan ini, anak diperkenalkan gerakan kreatif yang sesuai untuk seusianya, dengan tatap muka hanya berlangsung satu kali dalam seminggu.
Ada pula tingkat general graded syllabus, dengan durasi latihan meningkat menjadi dua kali dalam seminggu. Materi yang diajarkan mencakup classical ballet, free movement, character, dan pointe work. Juga ada vocational graded syllabus dan ballet for adult.
Sementara Sekolah Balet Sumber Cipta memiliki program balet klasik, baik untuk pemula hingga kelas lanjutan bagi para penari semiprofesional. Kelas yang ditawarkan di antaranya pre ballet untuk balita yang ditujukan bagi anak berusia 3,5–4,5 tahun. Kelas diadakan tiap satu minggu sekali selama satu jam. Ada pula pre ballet untuk pemula, balet klasik bagi tingkat pemula sampai advance, dan kelas balet untuk dewasa.
Tampaknya tak sedikit orangtua yang percaya akan manfaat yang ditawarkan kursus ini bagi perkembangan anak. Salah satunya Meidira. Wanita yang bekerja di perusahaan ekspor impor itu mengaku, sudah memasukkan putrinya, Keisha yang berusia lima tahun, ke sebuah sanggar balet yang tidak jauh dari kediamannya di kawasan Jakarta Selatan. Meidira pada awalnya hanya ingin menjadikan Keisha mempunyai aktivitas yang menyenangkan. Ia juga mempercayai dengan rutinnya Keisha menjalani balet, dapat membuat tubuh sang anak menjadi proporsional dan lentur.
Keisha sering melihat tarian ini di televisi, dan ketika ditawari untuk ikut kursus ia pun tidak menolak. “Ternyata banyak perubahan yang terjadi pada diri putri saya,” ujar wanita berusia 35 tahun itu. Keisha belajar berdisiplin dan menyiapkan sendiri perlengkapan baletnya ketika akan mengikuti kursus. Ia pun menjadi lebih percaya diri di hadapan banyak orang berkat seringnya mengikuti pementasan balet.
Sedangkan Irninta, salah seorang peserta kursus di Sanggat Balet Namarina menuturkan, dirinya mengawali kursus tersebut di usia yang relatif muda, yakni sembilan tahun. Dara berusia 17 tahun itu awalnya dikenali sang bunda pada tarian balet. Rupanya Ninta - sapaan akrabnya- tertarik dengan tari yang kerap menumpukan tubuh pada ujung kaki ini. Pada permulaan mengikuti kursus balet di Namarina yang terletak di daerah Jakarta Selatan, Ninta hanya diwajibkan hadir seminggu sekali. Menginjak ke tingkatan yang lebih tinggi, kini dirinya harus latihan empat kali dalam seminggu.
Praktis saat ini hari-hari Ninta hanya diisi dengan kegiatan sekolah dan dilanjutkan dengan latihan balet di studio Namarina. Meski demikian, tidak terbesit kejenuhan sedikit pun dibenak siswi SMA Theresia Menteng, Jakarta Pusat itu. Ninta bahkan menganggap balet bukan lagi sekadar hobi, melainkan suatu karier yang akan dirintisnya mulai sekarang.
(Koran SI/Koran SI/tty)